Meditasi telah lama dikenal sebagai praktik penenangan diri secara
spiritual. Masyarakat awam meyakini dengan bermeditasi mampu menenangkan
pikiran, jiwa, hingga jasmani. Dalam tradisi agama dikenal sebagai berdoa,
yakni mengucapkan doa-doa maupun ayat tertentu sehingga mampu mendamaikan
pikiran dan hati serta menyehatkan raga.
Dalam Islam, terdapat beberapa praktik meditasi setidaknya lima kali
sehari, yaitu di dalam sholat maupun setelah sholat. Selama doa, seorang muslim
memusatkan pikirannya kepada ALLAH SWT dengan membaca Al-Quran dan berdzikir
untuk menegaskan kembali hakikat sebagai manusia dan memperkuat ikatan antara
Pencipta dan ciptaanNYA.
Dalam tradisi Ahluss Sunnah Wal Jama’ah sendiri memiliki banyak praktik
meditasi mulai dari berdzikir, bersholawat, Tahlilan, hingga pembacaan
surat-surat tertentu seperti surat Yasin dan Waqiah. Secara ilmiah ternyata
bisa dibuktikan mampu memberikan rasa damai terhadap pembacanya. Bahkan banyak
toriqoh maupun jamaah berkumpul untuk berdoa bersama-sama untuk mendapatkan
ketenangan jiwa.
Sebuah publikasi penelitian pada tahun 2013
yang dilakukan oleh Nurul Fazrena Kamal dan rekan melalui jurnal yang berjudul Modeling Brain
Activities during Reading Working Memory Task: Comparison between Reciting
Quran and Reading Book Procedia Social and Behavioral Sciences Science
Direct mengungkapkan bahwa dengan membaca Al-Qur’an mampu menjaga pikiran
damai secara spiritual daripada membaca buku, sehingga mampu menghadapi
tantangan apapun baik di dunia pekerjaan, kehidupan sosial atau keluarga.
Penelitian ini menggunakan alat elektroenchefalogram (EEG) yang mampu
mendeteksi kekuatan memori otak.
Peneliti Dr. Al Qadhi,seorang ilmuwan dari Florida Amerika Serikat yang menjelaskan
temuannya pada konferensi dokter islam Amerika Utara tahun 1985 bahwa dengan
membaca Al-Quran baik orang yang berbahasa arab maupun tidak mampu mengurangi
kesedihan, depresi, memperbaiki ketenangan jiwa hingga 97%, bahkan mengurangi
berbagai efek penyakit. Secara kejiwaan, dia menyimpulkan dengan membaca al
qur’an mampu menjadi terapi jiwa agar menjadi lebih tenang dan damai. Penelitiannya
kemudian diperkuat dengan penelitian Muhammad
Salim dari Universitas Boston melakukan riset dengan menggunakan objek 5 orang
sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Penelitian yang dilakukan
sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan
tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya,
responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan
Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab
yang bukan dari Al-Qur’an. Bahkan menurut penelitian Dr. Nurhayati pada tahun
1997, bayi yang berusia 48 jam yang diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari
tape recorder menunjukkan respons bahagia dengan tersenyum dan menjadi lebih
tenang. Dalam kesimpulannya perkembangan janin ibu hamil juga lebih sehat dan
optimal.
Memori anak pun bisa berkembang baik dengan memperdengarkan bacaan
Al-Qur’an. Atefeh Hojjati dan rekan mendapatkan
temuan bertajuk efektifitas alunan nada bacaan Alqur’an terhadap perkembangan
memori anak yang diterbitkan oleh Procedia Social and Behavioral Sciences
Science Direct dalam 4th World Conference on Psychology,
Counselling and Guidance 2013. Mereka mengungkapkan
tidak hanya memperdengarkan musik klasik kepada anak mampu menaikkan memori,
tapi mendengarkan bacaan Al-Qur’an selam 15 menit saja mampu menaikkan
kemampuan memori anak.
Dengan adanya beberapa penelitian tersebut diharapkan mampu menggugah
dan memotivasi kita sebagai muslim sensntiasa membaca AL-Qur’an dengan baik dan
benar. Harapannya mampu memberikan rasa damai menjalani kehidupan sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar