Jumat, 06 Mei 2016

Sehat dengan Bacaan Al-Qur’an

Meditasi telah lama dikenal sebagai praktik penenangan diri secara spiritual. Masyarakat awam meyakini dengan bermeditasi mampu menenangkan pikiran, jiwa, hingga jasmani. Dalam tradisi agama dikenal sebagai berdoa, yakni mengucapkan doa-doa maupun ayat tertentu sehingga mampu mendamaikan pikiran dan hati serta menyehatkan raga.
Dalam Islam, terdapat beberapa praktik meditasi setidaknya lima kali sehari, yaitu di dalam sholat maupun setelah sholat. Selama doa, seorang muslim memusatkan pikirannya kepada ALLAH SWT dengan membaca Al-Quran dan berdzikir untuk menegaskan kembali hakikat sebagai manusia dan memperkuat ikatan antara Pencipta dan ciptaanNYA.
Dalam tradisi Ahluss Sunnah Wal Jama’ah sendiri memiliki banyak praktik meditasi mulai dari berdzikir, bersholawat, Tahlilan, hingga pembacaan surat-surat tertentu seperti surat Yasin dan Waqiah. Secara ilmiah ternyata bisa dibuktikan mampu memberikan rasa damai terhadap pembacanya. Bahkan banyak toriqoh maupun jamaah berkumpul untuk berdoa bersama-sama untuk mendapatkan ketenangan jiwa.

Sebuah publikasi penelitian pada tahun 2013 yang dilakukan oleh Nurul Fazrena Kamal dan rekan melalui jurnal yang berjudul Modeling Brain Activities during Reading Working Memory Task: Comparison between Reciting Quran and Reading Book Procedia Social and Behavioral Sciences Science Direct mengungkapkan bahwa dengan membaca Al-Qur’an mampu menjaga pikiran damai secara spiritual daripada membaca buku, sehingga mampu menghadapi tantangan apapun baik di dunia pekerjaan, kehidupan sosial atau keluarga. Penelitian ini menggunakan alat elektroenchefalogram (EEG) yang mampu mendeteksi kekuatan memori otak.

Peneliti Dr. Al Qadhi,seorang ilmuwan dari Florida Amerika Serikat yang menjelaskan temuannya pada konferensi dokter islam Amerika Utara tahun 1985 bahwa dengan membaca Al-Quran baik orang yang berbahasa arab maupun tidak mampu mengurangi kesedihan, depresi, memperbaiki ketenangan jiwa hingga 97%, bahkan mengurangi berbagai efek penyakit. Secara kejiwaan, dia menyimpulkan dengan membaca al qur’an mampu menjadi terapi jiwa agar menjadi lebih tenang dan damai. Penelitiannya kemudian diperkuat dengan penelitian  Muhammad Salim dari Universitas Boston melakukan riset dengan menggunakan objek 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Bahkan menurut penelitian Dr. Nurhayati pada tahun 1997, bayi yang berusia 48 jam yang diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respons bahagia dengan tersenyum dan menjadi lebih tenang. Dalam kesimpulannya perkembangan janin ibu hamil juga lebih sehat dan optimal.
Memori anak pun bisa berkembang baik dengan memperdengarkan bacaan Al-Qur’an. Atefeh Hojjati dan rekan mendapatkan temuan bertajuk efektifitas alunan nada bacaan Alqur’an terhadap perkembangan memori anak yang diterbitkan oleh Procedia Social and Behavioral Sciences Science Direct dalam 4th World Conference on Psychology, Counselling and Guidance 2013. Mereka mengungkapkan tidak hanya memperdengarkan musik klasik kepada anak mampu menaikkan memori, tapi mendengarkan bacaan Al-Qur’an selam 15 menit saja mampu menaikkan kemampuan memori anak.

Dengan adanya beberapa penelitian tersebut diharapkan mampu menggugah dan memotivasi kita sebagai muslim sensntiasa membaca AL-Qur’an dengan baik dan benar. Harapannya mampu memberikan rasa damai menjalani kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar