Jumat, 06 Mei 2016

Kedaulatan Ekonomi Pesantren

Pesantren sebagai tonggak pendidikan keagamaan berbasis masyarakat memiliki peran strategis di bidang ekonomi. Pendidikan kegamaan dan pengembangan usaha perekonomian berbasis pesantren partisipatif  diajarkan oleh kyai pesantren mengilhami banyak santri yang saat lulus dari pesantren berkecimpung dalam dunia wirausaha. Menurut kajian Murtadho dalam studi tentang pesantren dan pemberdayaan ekonomi, pola pengembangan usaha ekonomi di pesantren terbagi menjadi empat, pertama usaha ekonomi berpusat dan bertitik tumpu pada kyai dimana sang kyai bertanggung jawab penuh menjalankan usaha. kedua, usaha ekonomi untuk operasional pesantren dalam hal ini guna menunjang pemenuhan pembiayaan operasional pesantren. Ketiga, usaha ekonomi untuk santri sebagai bekal keterampilan setelah lulus pesantren. Keempat, usaha ekonomi yang melibatkan alumni pesantren untuk mengembangkan usaha produktif individu alumni pesantren yang keuntungannya untuk pesantren dan selebihnya untuk pemberdayaan alumni. Beberapa pesantren yang telah mengimplementasikan tujuan usaha ekonomi kreatifnya contoh saja Pesantren Nurul Iman Parung Bogor yang memberikan pendidikan kreatif padat karya sebagai penyokong ekonomi pesantren dengan belasan ribu santrinya dan Pesantren Sidogiri yang telah mengembangkan jasa keuangan syariah melalui BMT Usaha Gabungan Terpadu Syariah Sidogiri  melalui Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sidogiri yang telah menyebar mulai pulau Jawa, Bali, Sumatra, hingga Kalimantan yang beromzet triliunan.
Berbicara mengenai MEA atau Masyarakat Ekonomi Asean yang digadang gadang negara-negara di ASEAN menjadi tantangan tersendiri bagi pesantren. MEA yang akan dicanangkan mulai 31 Desember 2015 sendiri memiliki sasaran yang mengintegrasikan ekonomi regional Asia Tenggara dalam bentuk pasar tunggal dan basis  produksi, kawasan ekonomi yang sangat kompetitif, kawasan pengembangan ekonomi yang merata atau seimbang, dan kawasan yang terintegrasi sepenuhnya menjadi ekonomi global. Lalu bagaimana dengan pesantren-pesantren di Indonesia? Menurut hemat penulis, jika tantangan-tantangan global yang bila tidak disikapi dengan baik mampu melemahkan posisi pesantren dalam hal kemandirian ekonomi baik instansi maupun lulusan pesantren karena hambatan-hambatan yang selama ini ada, baik hambatan birokrasi maupun administrasi akan dihilangkan. Bagaimana harusnya pesantren mampu berjalan bersama-sama khususnya unit usaha perekonomiannya agar tidak tergerus dengan produk luar.
Mulai Cintai Produk Pesantren
Santri identik dengan peci, sarung, sajadah, kerudung, baju koko, hingga sandal dan bisa dilihat banyak yang dibuat oleh negara tirai bambu alias Made in China. Terlebih lagi saat musim tahun ajaran baru santri, produk tersebut pasti akan laris manis terjual habis ludes diserbu wali santri. Momen tersebut sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi. Bagaimana tidak, bila dihitung pada 2011-2012 dari data statistik pendidikan islam Kementerian Agama, terdapat 27.230 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia dengan jumlah santri secara keseluruhan mencapai 3.759.198 orang. Pastinya sirkulasi barang dan jasa akan mengalami peningkatan seiring bertambahnya jumlah konsumen santri. Keuntungan secara finansial pasti akan dirasakan oleh pesantren dan masyarakat yang ikut andil dalam bagian tersebut. Pastinya disertai pengembangan mutu produk sehingga bisa bersaing dengan produk impor. Santri perlu mulai ditanamkan jiwa cinta pesantren melalui koperasi pesantren yang siap menyediakan segala kebutuhan santri hasil produksi pesantren itu sendiri. Santri diajak terlibat mengapresiasi produk dan karya pesantren sehingga mereka akan belajar mencintai produknya sendiri. Kampanye mencintai produk oleh pesantren “Cintai Produk Pesantren” juga perlu digalakkan secara massive layaknya bagaimana pemerintah indonesia mengkampanyekan program "100% Cinta Produk Indonesia". Pesantren sebagai role model pendidikan Islam Nusantara harus terdepan dalam usaha tersebut.
Cetak Wirausahawan Santri kreatif

Pesantren yang siap menghadapi tantangan MEA adalah pesantren yang di dalam kurikulum pesantren salah satunya yang mengajarkan kecakapan hidup (life skills) dan bahasa asing, selain mengajarkan ilmu keagamaan salafiyah kitab kuning. Life skills atau Keterampilan hidup disini mencakup wawasan ilmu ekonomi, bahasa, agribisnis, dan kewirausahaan. Keterampilan hidup disini adalah Selain sisi santri, pesantren perlu memberikan pelatihan kemandirian dan kemampuan bahasa melalui pengembangan mutu pengajar ustadz dan ustadzah agar mampu bersaing dengan guru-guru asing dari negara ASEAN, karena tidak bisa dipungkiri posisi tersebut bisa diisi oleh tenaga pengajar luar negeri. Disinilah kemudian penyeragaman mutu tenaga pendidik darurat dan segera diwujudkan. Kemampuan bahasa inggris dan kemampuan ilmu teknologi (IT) sebagai bekal utama santri, ustadz, ustadzah menyikapi dunia global perlu digenjot seraya menggalakkan kemandirian santri dengan program wirausaha kreatif melalui UKM berbasis pesantren. Di sisi Kyai sebagai pimpinan pesantren, perlu menginstruksikan dan menyelaraskan struktur dibawahnya bagaimana memajukan pendidikan pesantren berjalan seiring antara ilmu agama, sains teknologi, dan bahasa. Harapannya pesantren memikirkan rencana strategis kekinian sehingga mampu memberikan solusi perkembangan terkini sesuai tuntutan jaman. Kedaulatan ekonomi pesantren perlu diwujudkan untuk mendorong terciptanya pesantren yang secara ekonomi mandiri dan lulusannya mampu bersaing dengan sumber daya manusia dari luar negeri. Tidak ada yang tidak mungkin dan sudah saatnya pesantren bangkit dan mengupayakan dengan taktis dan mengkaji guna mendaptkan gagasan strategis, efektif, dan efisien dalam menghadapi tantangan MEA 2015.

dimuat di Opini Duta.co pada 5 Juli 2015

Lutfi Bahruddin

Penggiat Kajian Pesantren di Pesantren Tebuireng
dan Penerbit Tebuireng

Pejuang Suaka Sameena

Namanya Syamsuddin, mahasiswa asal Solo yang sedang menempuh master di jurusan Kerja Sosial dan HAM di Universitas Gothenburg Swedia. Namanya yang susah membuat kawan-kawannya membikin sebuah nama yang lebih gampang diucapkan, dia dipanggil Sam. Sam adalah anak kedua dari pasangan Sardjono dan Kholifah yang sampai kini masih setia menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, menjadi Petani. Bagaimana tidak, sekarang ini bukan hanya guru saja yang bisa menyandingkan dirinya menjadi pahlawan tanpa tanda saja. Bayangkan saja semua modal pertanian tidak kembali lebih banyak rugi akibat rendahnya nilai hasil panen. Paling baiknya ya balik modal. Harga pupuk yang melambung seiring mulai susahnya menggarap lahan pertanian akibat musim yang tak menentu menambah derita kaum caping ini. Siapa lagi kalau yang menanggung semuanya kalau bukan petani.

Sam kini beranjak ke semester ketiganya di kampus, kuliah mulai senggang karena tinggal melakukan penelitian tesis yang sudah hampir selesai dan jurnal. Libur musim semi sebagai penanda musim dingin berakhir membuat hari-hari lebih santai. Libur pekan telah tiba. Sam masih tidur pulas berselimutkan sarung kotak-kotak pemberian bapaknya. Nada dering telepon genggam hitam buatan Finlandia tiba- tiba berdering di pagi yang cukup cerah. Daun-daun pepohonan termasuk daun pohon maple mulai bersemi kembali. Maklum suasana musim dingin yang baru usai dan musim semi mulai muncul di daratan Skandinavia. Ternyata nada dering itu berasal dari SMS seorang teman , ia bernama Matthias. Seorang kandidat doktor bidang hukum dagang asal Jerman. Dia menghantarkan sebuah pesan berbunyi," Hey Sam, What are you doing today? If you do not have a plan I will take you together with George and Sameena somewhere outside Goteborg. Text me back.."  intinya dia mengajak melancong main ke suatu tempat di luar kota. Gothenburg adalah kota besar kedua di Swedia setelah Stockholm.
Langsung saja Sam alias Syamsuddin menghubungi George dan Sameena, teman kongkow Sam. George berasal dari Inggris, sedangkan Sameena berasal dari Italia warga keturunan Yaman. Mereka bertiga sudah lama berteman sejak awal mulai masuk kuliah di jurusan kerja sosial dan HAM di universitas yang sama. Sam kemudian menghubungi George dan Sameena. Keduanya pun menyanggupi untuk ikut turut serta mengikuti ajakan Matthias. Sam pun menjawab pesan dan menghantarkannya dengan cepat. Mereka bertiga pun menunggu Matthias di depan apartemen jam 11. Untungnya apartemen mahasiswa Sam hanya satu blok dengan George dan Sameena di area Apartemen Volrat Thams. Tak menunggu lama, Akhirnya ketemu Matthias meluncur dengan mobil mini sedan berwarna hijau MINI COOPER. Ini adalah kali pertama Sam naik mobil pribadi nan mahal. Maklum biasanya Sam hanya mengandalkan tram dan bus kota karena aksesnya lebih mudah dan harganya terjangkau bagi kaum mahasiswa. Sam memiliki kartu transportasi kota langganan yang bisa dipakai sebulan penuh dan bisa diisi ulang kalau sudah habis masa berlakunya. Matthias mempersilahkan mereka bertiga masuk dengan aksen Inggris-Jermannya yang masih cukup kental. Cukup bagi mereka berempat dalam satu mobil yang memang dirancang minimalis namun bertenaga badak. Usai masuk mobil, Sam bertanya kemana tujuan melancongnya. Perawakan Matthias tidak seperti kebanyakan “bule”, tubuhnya mungil setara tinggi Sam yakni rata-rata tinggi orang Indonesia, 165 cm. Dengan senyuman khas, Matthias bilang akan mengajak Sam, George, dan Sameena ke Lysekil, sebuah kota kecil di bagian barat Swedia berbatasan langsung dengan lautan dan pantai berbatu. Menuju kota Lysekil membutuhkan 3 jam perjalanan melewati kota Kungalv, Ljungskile, dan distrik Jorlanda. Dari Jorlanda mereka harus menyebrangi jembatan Sunninngen hingga menyeberangi selat laut menuju Finnsbo dan lanjut dengan perjalanan darat menuju Lysekil.  Kota ini biasanya ramai dikunjungi saat musim panas, sebagai tempat berlibur dan menikmati matahari musim panas.
Selama perjalanan mereka disuguhkan panorama pemandangan daratan, perbukitan, dan pantai daratan tanah Viking. Perumahan khas Swedia yang berkonsep country house lengkap dengan peternakan kuda dan kandang peternakannya menghiasi perjalanan libur pekan mereka. Meski menempuh 3 jam perjalanan, rasa penat dan lelah tak terasa. Selama perjalanan alunan musik elektrik disko kesukaan Matthias meramaikan suasana melancong. Akhirnya Matthias menepikan kendaraan ke sebuah tempat peristirahatan yang menghadap kearah pantai Bohauss, sebuah pantai yang mengarah ke kota Lysekil. Di tempat peristirahatan itu terdapat waralaba terkenal yang menjual makanan cepat saji. Mereka pun turun seraya menuju restoran tersebut untuk makan siang.
Sembari menunggu antrian dan mendapatkan makanan yang dipesan. Sam dan kawan-kawannya menonton berita di televisi yang sengaja diletakkan di atas atap dekat dengan kasir. Saat menonton berita mereka terkejut dengan adanya pemberitaan tentang nestapa imigran dari Suriah dan Somalia yang rela berkorban harta hingga nyawa untuk bisa selamat hingga Swedia. Pemberitaan ini menghangat seiring terjadinya konflik Suriah dan juga Somalia yang tak kunjung usai. Banyak dari rakyatnya menghindar dan menjauh dari asal negaranya untuk kehidupan yang lebih baik tanpa dilanda perang dengan mencari suaka ke negara-negara Eropa seperti Jerman dan Swedia. Swedia sendiri merupakan negara yang menerima suaka terbesar di Uni Eropa setelah Jerman. Biasanya imigran akan menyeberang menuju kota Malmo yang menjadi kota transit pertama yang dikunjungi imigran di Swedia. Namun dalam pemberitaan itu bukan kisah suka yang diberitakan. Justru kisah duka menyelimuti imigran yang diberitakan di media televisi tersebut. Sebuah tayangan berita memperlihatkan beberapa imigran mengalami kekerasan fisik selama perjalanan menuju saat di Yunani.
“ ya Tuhan, apa yang terjadi dengan mereka, banyak sekali bekas luka dan lebam!” tanya George yang kaget dengan pemberitaan beberapa imigran perempuan suriah yang mengalami kekerasan saat menuju Swedia.
“Aku pikir, mereka mengalami siksaan oleh penyelundup mereka!” sahut Sameena yang juga pernah menjadi imigran di Italia.
Sameena adalah putri pertama dari pasangan Bassar dan Aleeya yang mengalami kekerasan secara politik dan fisik oleh salah satu klan yang berpengaruh di Yaman. Sameena menghindar dari penyerbuan kelompok Hassan Al Houhti yang sering meneror warga yang melawannya. Sameena yang menjadi salah satu incaran kelompok Houhti ini dituduh menjadi mata-mata kelompok lawan Houhti. Beruntung Sameena bisa melarikan diri dan diajak untuk tinggal oleh saudara sepupunya yang telah lama bekerja di Bologna, Italia sebagai koki masak. Sameena lalu dititipkan oleh ayah dan ibunya menuju Italia untuk tinggal bersama sementara sekalian meneruskan belajarnya. Perjalanan Sameena tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai ancaman sewaktu keluar dari pengawasan keamanan tentara gerilyawan Yaman. Sameena mengungkapkan bahwa dia sengaja diselundupkan ke Albania melalui jasa penyelundup imigran gelap. Sayangnya penyelundup Sameena saat mencapai daratan Yunani pernah menyiksa dan menghajar Sameena hingga tak sadarkan diri. Beruntung dia kemudian diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit oleh polisi Yunani yang kebetulan melintas. Lantas Sameena dirawat hingga sembuh dan bisa melanjutkan perjalanan menuju Italia. Sameena bercerita bahwa tidak hanya dia yang disiksa. Ibu-ibu dan anak-anak tak luput dari kekejaman penyelundup. Tak hanya kekerasan fisik yang dialami oleh pencari suaka, buruknya sarana transportasi yang dipakai yang mau tidak mau digunakan sebagai sarana penyelundupan pun jauh dari aman. Akibatnya banyak yang mengalami dehidrasi akibat penyelundupan menggunakan peti kemas truk tronton. Banyak yang mengalami dehidrasi akibat kurangnya udara di dalam peti kemas dan mati. Sameena merasa beruntung karena dia memiliki perbekalan yang cukup sehingga tidak mengalami dehidrasi seperti pengungsi pencari suaka yang lain.
George dan Matthias semakin penasaran akan cerita Sameena, “Sameena, minum jus jerukmu dahulu” kata George saat melihat Sameena agak gemetar saat menceritakan pengalamannya mencari suaka di negeri orang. Sameena dengan tangan agak gemetar mengambil gelas yang berisi jus jeruk yang telah dipesannya. Sam dan George membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. Matthias pun ikut menyamankan posisi duduk dan mengelap kaca mata bundar khas ikon Harry Potter yang telah lama ia pakai sejak matanya mulai minus 4 tahun yang lalu. Sameena kemudian melanjutkan lakon ceritanya, “Di Yunani aku selamat, bersama rombongan lain aku menyeberangi laut Mediterania menuju Catania Italia. Waktu itu aku bersama 19 orang lainnya menuju Catania dengan sebuah perahu karet boat yang sengaja disediakan oleh penyelundup untuk menyeberangkan manusia-manusia pencari suaka ke Italia. Lagi-lagi perjalanan berat aku alami. Perahu boat yang ditumpangi oleng kesana-kemari akibat ombak laut Mediterania yang cukup mengguncang” terang Sameena sambil meneteskan air matanya. Sam menyulurkan tissu kepada Sameena. “Namun sayang, tak semua imigran bisa sampai ke Catania…” ungkap sayu Sameena. “Bagaimana itu bisa terjadi, Sameena?” tanya Sam penuh perhatian. “ Tidak semua imigran entah dari Yaman maupun Syria yang ikut dalam rombongan selamat. Beberapa dari mereka tak kuat akan ombak dan dinginnya lautan Mediterania dan akhirnya meninggal akibat perahu terbalik dan tak bisa berenang. Persis seperti apa yang terjadi pada bocah kecil Aylan Kurdi dan korban lainnya yang terdampar di perairan Turki” jawab Sameena terbata-bata sembari mengusap air matanya yang makin deras. Matthias, Sam, dan George tertunduk sedih mendengar cerita pilu Sameena yang mengalami langsung tragedi imigran pencari suaka. Sameena pun melanjutkan ceritanya, “Pada malam hari gelap nan kelam itu, tak semua penumpang kapal memakai jaket keselamatan, khususnya anak kecil dan ibu-ibu yang sedang hamil. Aku masih beruntung memakai jaket keselamatan dan bisa berenang menggapai kapal evakuasi negara Italia yang telagh mendapatkan info mengenai manusia yang mengapung di perairan mediterania tak jauh dari Italia”. Air mata Sam berkaca-kaca. Dia tidak percaya kawannya pernah mengalami peristiwa yang hamper merenggut hidupnya. “ Lalu, apa yang dilakukan oleh kapal evakuasi Italia?” bagaimana dengan evakuasinya?” Sam bertanya penuh cemas. “Aku dan rombongan yang selamat lainnya diselamatkan oleh penjaga perairan Italia dan diberikan perawatan yang cukup baik. Mereka kemudian mendata semua awak penumpang yang selamat di kantor kesehatan pelabuhan Catania. Aku dipersilahkan untuk menghubungi saudaraku yang berada di Bologna. Setiba disana kami dijamu dan dirawat dengan baik. Setiba di Catania, saudaraku yang datang menjemput langsung memelukku penuh khawatir. Dari pengalaman yang hampir merenggut nyawanya itu, Aku bekerja dan melanjutkan kuliah di jurusan Ilmu sosial dan politik di Universita da Bologna. Impianku hanya satu, bagaimana aku mampu berperan menyelamatkan hak-hak asasi manusia yang terenggut, khususnya di masalah pengungsi pencari suaka akibat konflik. Itulah kemudian aku melanjutkan S2 ku di Gothenburg.” Ucap Sameena yang mengakhiri cerita pengalaman pribadinya. Sam, George, dan Matthias tak kuasa menahan haru dan saling berpegangan tangan bersama dengan Sameena di meja restoran. Mereka bersatu padu bermimpi dan berharap peristiwa naas yang telah dialami Sameena dan pengungsi lainnya tidak terulang.
Makanan yang mereka pesan akhirnya datang, yaitu Pizza Burritos dan Pizza kebab dilengkapi dengan keju yang meleleh di bagian tepinya. Mereka pun tak sabar untuk menikmati hidangan yang tersedia di meja makan.
Usai makan siang. Sam dan kawan-kawannya melanjutkan perjalanan menuju Lysekil. Mereka harus menyeberang kanal dengan kapal ferri. Seperempat jam di atas kapal ferri, mereka menikmati pemandangan selat menuju kota Lysekil. Kapal ferrri pun mulai merapat ke dermaga pulau Lysekil yang juga terkenal dengan kota kecil nan unik. Tulisan Valkommen till Lysekil  di dermaga menyambut kedatangan pengunjung pulau dan kota kecil Lysekil. Panorama Lysekil dihiasi dengan pantai yang mayoritas ditutupi oleh bebatuan yang unik. Selain merupakan kota dermaga,kota ini juga dulunya menjadi penghasil ikan makarel karena banyak nelayan ikan. Namun seiring jaman,nelayan berangsur menghilang. Hanya kapal-kapal atau speed boat sewaan yang bersandar. Pantai batu Lysekil memiliki keunikan tersendiri karena terkadang pada suatu waktu tertentu, anjing laut datang ke pantai untuk sekedar berjemur dan menjadi atraksi alami yang bisa dinikmati pengunjung. Tak heran kota kecil ini juga menjadi persinggahan keluarga kerajaan Swedia di musim panas.
Matthias tak lupa mengabadikan momen kebersamaanya dengan Sam, George, dan Sameena. Canda tawa keakraban mereka setidaknya mengurangi kesedihan cerita Sameena. Mereka berfoto di depan sebuah telepon umum yang berwarna merah. George bahkan berpose layaknya pengawal kerajaan Inggris di depan telepon umum. Sam yang melihat pun terpingkal-pingkal melihat pose unik George. Matthias pun tak ketinggalan dengan pose andalannya mirip pemeran Harry Potter dengan menaiki sapu sampah yang diletakkan di dekat telepon umum.
Bagi Sam, ini adalah pengalaman jalan-jalannya yang sangat berkesan. Matthias dengan sosok yang sangat baik hati mengajak kawan-kawannya berlibur ke Lysekil, George dengan segala kelucuannya, dan Sameena seorang mahasiswi dan sahabat yang ternyata perempuan pejuang suaka yang sangat gigih menggapai asa hingga berhasil kuliah di Swedia. Sameena, Sang Pejuang Suaka.



Oleh : Lutfi Bahruddin

Sang Revolusioner, Nelson Mandela

Sejarah Singkat Nelson Mandela
Seorang pejuang keadilan akan hak-hak manusia melalui gerakan anti-apartheid nya telah berpulang pada kamis 5 Desember 2013, Nelson Mandela. Mandela wafat di usia 95 tahun di kediamannya di Johannesburg  Afrika Selatan. Pada hari itu juga khususnya warga Afrika Selatan tumpah ruah dijalanan mendoakan seraya melambaikan tangan perpisahan kepada pejuang hak asasi manusia, Mandela.  Dalam pembelaan terhadap rakyat asli Afrika Selatan, Mandela semasa hidupnya mati-matian membela demokrasi , menyerukan kebebasan (liberti) dan persamaan (ekualiti) hak-hak warga Negara.
Dalam sejarah, apartheid adalah skema suatu pemerintahan yang melakukan pembedaan dan pemisahan atas ras ataupun suku guna melindungi hak-hak khusus suatu ras. Kolonial Belanda di Afrika Selatan dari sekitar awal abad ke-20 hingga tahun 1990 menerapkan  pemisahan ras dengan tujuan untuk melindungi hak-hak istimewa kolonial. Apharteid mulai dipraktekan oleh pemerintah kulit putih Belanda di Afrika Selatan, kemudian berkembang menjadi suatu kebijakan politik dan menjadi politik resmi pemerintahan Afrika Selatan yang terdiri dari program dan peraturan yang bertujuan untuk melestarikan pemisahan rasial secara struktural sampai akhirnya dihapuskan pada tahun 1990. [i]
Dalam sistem apartheid, masyarakat ras kulit putih memiliki keuntungan sosial dan ekonomi lebih banyak khususnya prioritas mendapatkan hak perumahan, pekerjaan, pendidikan, dan akses kekuasaan politik. Mengingat pelanggaran hak asasi manusia ekstrim yang berasal dari apartheid , banyak efek negatif ditimbulkan mulai dari konflik ekonomi, sosial, dan politik. Awalnya perspektif konvensional adalah apartheid dilakukan oleh kulit putih kaya untuk menekan kulit hitam miskin . Bahkan , sistem melompat dari perang kelas dan beralih dengan isu pekerja buruh kulit putih berjuang melawan kedua mayoritas hitam dan putih kapitalis . Apartheid lahir dalam kemenangan politik serikat buruh kulit putih radikal atas kedua saingan mereka. Sehingga bisa dikatakan, sistem ekonomi kejam yang menindas pada saat itu adalah sosialisme kamu buruh kulit putih (serikat buruh kulit putih) dengan wajah rasis. Inilah yang kemudian diperjuangkan seorang Nelson Mandela untuk melawan dan memperjuangkan kesetaraan dalam berbagai hal. Adanya banyak ketimpangan yang dilakukan sistem apartheid terhadap perempuan (pelecehan seksual), anak ( akibat kekurangan gizi), hak layanan publik, serta hak atas kepemilikian lahan membuat kebijakan-kebijakan yang lebih menguntungkan bagi warga kulit putih. Hal ini menurut Mandela  adalah sistem diskriminatif terhadap warga Afrika Selatan asli kulit hitam. Melalui motor penggerak ANC (African National Conggres), Nelson Mandela dan kelompoknya berjuang untuk menghapuskan diskriminasi apartheid. Gerakan ANC pun bergerak secara damai, tanpa kekerasan, pemogokan, dan pembangkangan sipil masal guna membebaskan “pemisahan” hak berdasarkan atas ras (apartheid). Puncaknya pada tahun 1952, Mandela diadili dan dijatuhi hukuman percobaan memperjuangkan Campaign of Just Defiance hingga ANC secara resmi dilarang oleh pemerintahan proapartheid pada tahun 1960. Pun begitu, semangat menyala Mandela untuk perjuangkan hak-hak sipil belum redup. Mandela lalu medirikan organisasi Umkhonto we Sizwe sebagai usaha untuk memperjuangkan hak-hak sipil terhadap kekerasan yang ditimbulkan oleh politik apartheid. Pada tahun 1962, pemerintah proapartheid memenjarakan Nelson Mandela hingga tahun 1990.  Mandela bersama ANC berhasil menghapuskan sistem apartheid dan menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan yang terpilih secara demokratis sejak tahun 1994-1999. Sebuah kemenangan yang memang diinginkan sejak lama bagi warga kulit hitam Afrika Selatan. Perjuangan Mandela pun diakui oleh dunia sebagai seorang revolusioner yang menumbangkan kekejaman apartheid. Mandela berpesan "Yang penting dalam hidup bukanlah fakta bahwa kita telah hidup. Namun bagaimana (kita) bisa lakukan hal yang berbeda untuk kehidupan orang lain yang akan menentukan signifikansi dari kehidupan yang kita pimpin".[ii]
Pembelaan Hak Asasi Rakyat Palestina
Tak hanya melakukan pembelaan atas negaranya sendiri, Mandela kerap kali memberikan pembelaan atas diskriminasi kemanusiaan bagi mereka yang lain (the others) yang terjadi di beberapa negara. Pada 4 desember tahun 1997 pada peringatan hari Internasional Solidaritas Bangsa Palestina di Pretoria Afrika Selatan, dia mengatakan dengan lantang tentang makna kebebasan bagi rakyat Palestina "Kita tahu betul bahwa kebebasan kita akan tetap tidak lengkap tanpa kebebasan rakyat Palestina”. Ungkapan pembelaan ini kiranya bisa kita cermati bagaimana Mandela menggunakan kata-kata untuk memperjuangkan hak-hak persamaan asasi manusia. Dalam hal pembelaan terhadap rakyat Palestina, Ungkapan dan gerakan perjuangan Mandela diteguhkan pula oleh seorang revolusioner, Subcommandante Marcos. Menanggapi krisis di Palestina, Marcos dalam konferensi the World Festival of Dignified Rage pada tanggal 4 Januari 2009 memberikan pembelaan atas hak-hak sipil rakyat Palestina dengan menolak kekerasan atas nama apapun. Israel bertanggung jawab dalam hal kejahatan HAM rakyat Palestina. Marcos juga menyerukan agar rakyat Palestina tetap bertahan dan berjuang tasa hak tanah kelahirannya Palestina.[iii]
Cinta Batik Indonesia?
Mandela sempat membuat Presiden RI Suharto terkejut saat tokoh anti apartheid itu mengunjungi Jakarta pada tahun 1997. Saat itu, Mandela mengenakan batik, sementara Suharto berjas lengkap. Bahkan menurut berita yang dilansir di Tribun News.com Batik juga dikenakan saat acara-acara resmi seperti saat launching asosiasi mantan pemimpin dunia, The Elders tahun 2007 lalu.[iv]

Mantan Duta besar RI untuk Afrika Selatan Sugeng Rahardjo kepada BBC mengatakan bahwa perkenalan Mandela dengan batik terjadi pada tahun 1990, beberapa bulan setelah dia keluar dari penjara Pulau Roben. Asia termasuk Indonesia, kata Rahardjo, adalah tujuan utama perjalanan Madiba -nama akrab Mandela- usai keluar penjara. Saat kunjungan Mandela ke Indonesia, Mandela diberi cindera mata baju batik oleh presiden RI Soeharto. Bahkan beberapa baju batik merupakan rancangan desainer Indonesia Iwan Tirta.  Alhasil, baju batik yang sering ia (Mandela) kenakan terkenal di kalangan masyarakat afrika Selatan. Untuk menghormati dan sebagai kenangan rakyat Afrika Selatan, baju Mandela yang terbuat dari batik tersebut dinamakan “Madiba Shirt” atau baju Madiba. Nama tersebut diambil dari nama klan keluarga Nelson Mandela. Sementara itu untuk selalu mengenang perjuangan Nelson Mandela, didirikan beberapa institusi sosial bernama Nelson Mandela Foundation, Nelson Mandela’s Children Fund, dan The Mandela Rhodes Foundation. Kenangan Perjuangan Mandela akan selalu dikenang milyaran umat manusia sebagai Tokoh Pejuang Kemanusiaan Anti-Diskriminasi, saat ini hingga masa yang akan datang.  
RIP Mandela
 



Diterbitkan melalui Majalah Tebuireng Edisi Januari tahun 2013

[i] Apartheid adalah sistem pemisahan ras legal yang diterapkan di Republik Afrika Selatan dari tahun 1948 sampai 1993. Apartheid berasal dari kata bahasa Afrika yang berarti “terpisah”. Namun, bibit apartheid sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum tahun 1948 dan terus menghantui Afrika Selatan sebelum akhirnya dihapuskan. Dari laman http://www.amazine.co/25039/apa-itu-apartheid-fakta-sejarah-informasi-lainnya/ 14 Desember 2013

[ii] Ungkapan diambil dari laman http://www.nelsonmandela.org/content/page/biography 14 Desember 2013

[iii] Diambil dari Spanish and English Text Versions of Subcomandante Marcos' speech on Gaza, given at the World Festival of Dignified Rage on January 4th, 2009, Blog Tony Herrera. Subcommandante Marcos adalah pemimpin gerilyawan EZLN di Meksiko yang berjuang atas penderitaan dan penindasan hak asasi manusia masyarakat keturunan asli Maya di Chiapas. Marcos memberikan perlawannanya terhadap pemerintahan Meksiko karena mereka (warga keturunan asli Maya Meksiko) hidup dalam penderitaan dan tidak diakui hak-hak kewarganegaraannya sehingga pelayanan publik kepada masyarakat terisolir tidak ada mengingat pemerintah Meksiko masih menganggap mereka masyarakat kelas tiga dan tidak diperhatikan kesejahteraannya.

Semangat Juang Para Kyai Jombang di Muktamar NU ke-33

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 kali ini disuguhkan dengan atmosfer yang berbeda dan penuh nilai historis. Bagaimana tidak, lokasi muktamar NU ke-33 kali ini di Jombang bertempat di beberapa pesantren di kabupaten Jombang diantaranya Pesantren Tebuireng, Tambak Beras, Denanyar, dan Darul Ulum Peterongan Jombang. Jombang sendiri menyimpan sejarah panjang mengenai perjuangan melawan agresi Belanda dan revolusi kemerdekaan Republik Indonesia melalui basis pesantren. Selain itu juga pelaksanaan muktamar berbarenagn dengan bulan kemerdekaan RI yaitu bulan Agustus.

Jombang memiliki beberapa tokoh pahlawan nasional berbasis pesantren mulai dari Hadratussyeh Hasyim Asy’ari dan KH A.Wahid Hasyim yang berasal dari Pesantren Tebuireng.  Hadratussyeh Hasyim Asy’ari memiliki  andil  besar terhadap perjuangan kemerdekaan RI melalui pendirian organisasi massa islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 dan Resolusi Jihad melawan agresi militer Belanda. Sedangkan sosok KH A Wahid Hasyim dikenal pencetus dasar negara Republik Indonesia Panasila sekaligus menjabat Menteri Agama pertama Republik Indonesia.

KH Wahab Hasbullah dari Pesantren Tambak Beras juga miliki peran besar terhadap perjuangan bangsa melalui Nahdlatul Wathan (Gerakan Kebangsaan) yang didirikan beliau pada tahun 1916. Selain itu beliau pada tahun 1918 mendirikan gerakan pemikiran bernama Taswirul Afkar guna menjawab pemikiran masalah kebangsaan (Mun'im, 2015). Guna mengokohkan gerakan tersebut,  bersama Hadratussyeh Hasyim Asy’ari sebagai nahkoda pemimpin dan KH Wahab sebagai sekretaris maka pada tahun 1918 mendirikan lembaga penggalangan dana perjuangan Islam dan kemerdekaan Indonesia bernama Nahdlatut Tujjar (Gerakan Saudagar). Perjuangan selanjutnya beliau ikut dalam pendirian Nahdlatul Ulama.
KH Bisri Syansuri pendiri Pesantren Denanyar selain termasuk pendiri NU juga terkenal sebagai kyai perintis kesetaraan gender dalam pendidikan di pesantren dengan menginisiasi kelas perempuan, ahli fiqh dan sekaligus ahli politik mumpuni (Wahid, 1989). Beliau lah yang mendesak UU Perkawinan bersama Ulama NU lainnya yang masih menjadi rujukan hingga saat ini. Capaian yang luar biasa besar terhadap bangsa tersebut merupakan sejarah penting bagi NU dan umat Islam.


KH Romly Tamim putra pendiri Pesantren Darul Ulum Peterongan KH Tamim Irsyad merupakan Mursyid Thoriqoh Qodiriah wa Naqsabandiyah dan pembuat istighosah yang dibacakan pada waktu pendirian jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) menjadi jariyah beliau terhadap pesantren dan NU (Aula, 2010). Istighotsah adalah berarti beberapa bacaan wirid (awrad) tertentu yang dilakukan untuk mohon pertolongan kepada Allah SWT atas beberapa masalah hidup yang dihadapi (Ma'shum, 2014).

Tulisan untuk media Tebuireng.org saat Muktamar NU ke 33 di Jombang

Sehat dengan Bacaan Al-Qur’an

Meditasi telah lama dikenal sebagai praktik penenangan diri secara spiritual. Masyarakat awam meyakini dengan bermeditasi mampu menenangkan pikiran, jiwa, hingga jasmani. Dalam tradisi agama dikenal sebagai berdoa, yakni mengucapkan doa-doa maupun ayat tertentu sehingga mampu mendamaikan pikiran dan hati serta menyehatkan raga.
Dalam Islam, terdapat beberapa praktik meditasi setidaknya lima kali sehari, yaitu di dalam sholat maupun setelah sholat. Selama doa, seorang muslim memusatkan pikirannya kepada ALLAH SWT dengan membaca Al-Quran dan berdzikir untuk menegaskan kembali hakikat sebagai manusia dan memperkuat ikatan antara Pencipta dan ciptaanNYA.
Dalam tradisi Ahluss Sunnah Wal Jama’ah sendiri memiliki banyak praktik meditasi mulai dari berdzikir, bersholawat, Tahlilan, hingga pembacaan surat-surat tertentu seperti surat Yasin dan Waqiah. Secara ilmiah ternyata bisa dibuktikan mampu memberikan rasa damai terhadap pembacanya. Bahkan banyak toriqoh maupun jamaah berkumpul untuk berdoa bersama-sama untuk mendapatkan ketenangan jiwa.

Sebuah publikasi penelitian pada tahun 2013 yang dilakukan oleh Nurul Fazrena Kamal dan rekan melalui jurnal yang berjudul Modeling Brain Activities during Reading Working Memory Task: Comparison between Reciting Quran and Reading Book Procedia Social and Behavioral Sciences Science Direct mengungkapkan bahwa dengan membaca Al-Qur’an mampu menjaga pikiran damai secara spiritual daripada membaca buku, sehingga mampu menghadapi tantangan apapun baik di dunia pekerjaan, kehidupan sosial atau keluarga. Penelitian ini menggunakan alat elektroenchefalogram (EEG) yang mampu mendeteksi kekuatan memori otak.

Peneliti Dr. Al Qadhi,seorang ilmuwan dari Florida Amerika Serikat yang menjelaskan temuannya pada konferensi dokter islam Amerika Utara tahun 1985 bahwa dengan membaca Al-Quran baik orang yang berbahasa arab maupun tidak mampu mengurangi kesedihan, depresi, memperbaiki ketenangan jiwa hingga 97%, bahkan mengurangi berbagai efek penyakit. Secara kejiwaan, dia menyimpulkan dengan membaca al qur’an mampu menjadi terapi jiwa agar menjadi lebih tenang dan damai. Penelitiannya kemudian diperkuat dengan penelitian  Muhammad Salim dari Universitas Boston melakukan riset dengan menggunakan objek 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Bahkan menurut penelitian Dr. Nurhayati pada tahun 1997, bayi yang berusia 48 jam yang diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respons bahagia dengan tersenyum dan menjadi lebih tenang. Dalam kesimpulannya perkembangan janin ibu hamil juga lebih sehat dan optimal.
Memori anak pun bisa berkembang baik dengan memperdengarkan bacaan Al-Qur’an. Atefeh Hojjati dan rekan mendapatkan temuan bertajuk efektifitas alunan nada bacaan Alqur’an terhadap perkembangan memori anak yang diterbitkan oleh Procedia Social and Behavioral Sciences Science Direct dalam 4th World Conference on Psychology, Counselling and Guidance 2013. Mereka mengungkapkan tidak hanya memperdengarkan musik klasik kepada anak mampu menaikkan memori, tapi mendengarkan bacaan Al-Qur’an selam 15 menit saja mampu menaikkan kemampuan memori anak.

Dengan adanya beberapa penelitian tersebut diharapkan mampu menggugah dan memotivasi kita sebagai muslim sensntiasa membaca AL-Qur’an dengan baik dan benar. Harapannya mampu memberikan rasa damai menjalani kehidupan sehari-hari.

Etika Berdakwah Semakin Diabaikan?

Baru-baru ini,  media sosial elektronik  tanah air di gemparkan oleh pemandangan tak sedap. Seiring dengan meluasnya rekaman yang diunggah di sebuah situs video, dimana Ustadz sinetron, Hariri, melakukan tindak kekerasan, dengan menginjak kepala salah seorang jamaah dengan lututnya. Sebagai juru dakwah, semestinya menampilkan sikap lemah lembut dan berperilaku baik. Tidak saja, untuk mencerminkan pribadi yang baik juga menunjukan bahwa berdakwah itu harus memiliki etika. Tidak sebaliknya, merasa angkuh dan sombong akan pengetahuan yang di milikinya.
Tindakan yang berlebihan itu pun sontan  menuai kecaman dari berbagai pihak. Mulai dari MUI, Ulama, masyarakat, hingga pengasuh pesantren.   Gus Sholah menjawab pertanyaan salah satu followernya, @AlawiIbnuimam” mengenai perbuatan Ustad Hariri, “Ustadz tersebut jangan lagi muncul sebagai Da’i “. @Gus_Sholah pada Kamis (13/2/2014).
Hemat penulis, hal ini sangat beralasan, mengingat efek negatif dari perilaku ustadz jebolan ajang bakat da’i di sebuah stasiun televisi swasta. Pasalnya perilaku yang ditunjukan Hariri  tidak sesuai dengan etika berdakwah. Bagaimana mungkin, seorang ustadz yang sedang memberikan tausyiah nya kepada masyarakat bersikap arogan dan melecehkan harga diri seseorang  di hadapan publik. Padahal saat kejadian orang tersebut sudah meminta maaf terlebih dahulu.
Ustadz Karbitan!
Predikat ustadz karbitan layak di alamatkan kepada mereka yang mengaku ustadz. Padahal dari segi keilmuan utamanya mengenai ilmu agamanya harus mendalam. Kemudian, akhlak yang baik. Kedua hal tersebut harus bersinergi.  Bukankah, seperti halnya seseorang yang dipanggil ustadz, seharusnya telah mengalami proses panjang pembelajaran agama yang luas, memiliki akhlak yang baik, memiliki kesabaran yang tinggi, serta menjauhkan diri dari sifat semena-mena terhadap orang lain. Tidak ada alasan logis dimana sang ustadz bertindak sewenang-wenang.
Memang, tidak dapat dipungkiri, tindak kekerasan khususnya yang masih berhubungan dengan dunia “ustadz” juga terjadi diberbagai tempat. Predikat ustadz ataupun kiai sudah sepantasnya dapat menjaga diri dengan memberikan teladan akhlak yang baik.  Proses penggemblengan ustadz ala pesantren menjadi contoh ideal. Proses pembentukan jati diri seorang “ustadz” yang saat ini menjadi representasi “perkotaaan” orang yang paham agama saat ini memang tak terelakkan. Otoritas penyedia pelayanan agama saat ini pun sudah meluas tidak hanya pesantren ataupun madrasah, ada juga lembaga keIslaman yang memang dibuat dengan pondasi yang tak sekuat mapun selengkap yang ada di pesantren ataupun madrasah. Tentu membuat kita miris melihatnya bukan?
Di pesantren, metode pembelajaran tidak hanya mengajarkan ilmu agama semata, namun juga memberikanpembelajaran langsung bagaimana seharusnya berperilaku melalui pengajaran akhlaq. Para Kiai selalu memberikan teladan yang baik. Implementasi akhlaqul karimah benar-benar dijalankan. Sehingga para juru dakwah produk pesantren  mampu berdakwah melalui perbuatan dan perkataan. Penyandangan “ustadz” yang terjadi di wilayah perkotaan menjadi pengertian sempit dari idealnya luaran yang dihasilkan pesantren.

Selera media cetak ataupun elektronik dalam mengambil juru dakwah seringkali sesuka hati. Tak jarang orang yang pintar ilmu agama dan bisa berdakwah hanya dilihat dari segi fisiknya saja, semisal masih muda, paras yang menarik, bersorban, dan kemudian sering muncul di acara-acara pengajian televisi. Kesemuanya seolah hanya untuk menaikkan rating perusahaan TV . Tentu, hal yang sedemikian menjadi suatu hal yang keliru. Padahal dalam hal ini, media dapat bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang memiliki kredibilitas mengeluarkan para juru dakwa. Baik itu pesantren ataupu lembaga keagamaan lain yang sudah terpercaya. Semoga kedepan kejadian diatas tidak terulang!

oleh : Lutfi Bahruddin
Dimuat di Majalah Tebuireng 2014
posting ulang di www.tebuireng.org pada February 19, 2014

Sabtu, 13 Oktober 2012

Konsulat Jepang Kunjungi PUSKESTREN Tebuireng

Tebuireng.org- Jumat siang 27 Juli 2012, Pusat kesehatan pesantren Tebuireng atau akrab dikenal dengan PUSKESTREN dikunjungi oleh Wakil Konsulat Jenderal Masatake Hito, sekaligus memberikan materi beasiswa pendidikan di Jepang. Perlu diketahui bahwasannya PUSKESTREN Tebuireng merupakan unit kesehatan hibah bantuan dari pemerintah Jepang yang diresmikan tahun 2008 oleh menteri kesehatan Siti Fadhillah Supari.

Dalam kunjungannya di PUSKESTREN Tebuireng, beliau sangat terkesan dengan bangunan fisik dan pelayanan klinik yang dilakukan 24 jam dan bangga bahwa bantuan hibah dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pesantren dan masyarakat. Sosok wakil konsulat yang masih muda tersebut juga berterima kasih kepada pesantren Tebuireng mewujudkan misi kemanusiaan dan sosial pemerintah Jepang di Indonesia khususnya di pesantren Tebuireng. Harapan Masatake Hito, PUSKESTREN Tebuireng ini bisa menjadi pusat kesehatan yang mampu melayani kesehatan santri serta masyarakat yang membutuhkan.[Lutfi FB/tbi.org]