Namanya Syamsuddin, mahasiswa asal Solo yang sedang menempuh master di
jurusan Kerja Sosial dan HAM di Universitas Gothenburg Swedia. Namanya yang
susah membuat kawan-kawannya membikin sebuah nama yang lebih gampang diucapkan,
dia dipanggil Sam. Sam adalah anak kedua dari pasangan Sardjono dan Kholifah
yang sampai kini masih setia menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, menjadi Petani.
Bagaimana tidak, sekarang ini bukan hanya guru saja yang bisa menyandingkan
dirinya menjadi pahlawan tanpa tanda saja. Bayangkan saja semua modal pertanian
tidak kembali lebih banyak rugi akibat rendahnya nilai hasil panen. Paling
baiknya ya balik modal. Harga pupuk yang melambung seiring mulai susahnya
menggarap lahan pertanian akibat musim yang tak menentu menambah derita kaum caping
ini. Siapa lagi kalau yang menanggung semuanya kalau bukan petani.
Sam kini beranjak ke semester ketiganya di kampus, kuliah mulai senggang
karena tinggal melakukan penelitian tesis yang sudah hampir selesai dan jurnal.
Libur musim semi sebagai penanda musim dingin berakhir membuat hari-hari lebih
santai. Libur pekan telah tiba. Sam masih tidur pulas berselimutkan sarung
kotak-kotak pemberian bapaknya. Nada dering telepon genggam hitam buatan
Finlandia tiba- tiba berdering di pagi yang cukup cerah. Daun-daun pepohonan
termasuk daun pohon maple mulai bersemi kembali. Maklum suasana musim dingin
yang baru usai dan musim semi mulai muncul di daratan Skandinavia. Ternyata
nada dering itu berasal dari SMS seorang teman , ia bernama Matthias. Seorang
kandidat doktor bidang hukum dagang asal Jerman. Dia menghantarkan sebuah pesan
berbunyi," Hey Sam, What are you doing today? If you do not have a plan I
will take you together with George and Sameena somewhere outside Goteborg. Text
me back.." intinya dia mengajak
melancong main ke suatu tempat di luar kota. Gothenburg adalah kota besar kedua
di Swedia setelah Stockholm.
Langsung saja
Sam alias Syamsuddin menghubungi George dan Sameena, teman kongkow Sam. George
berasal dari Inggris, sedangkan Sameena berasal dari Italia warga keturunan
Yaman. Mereka bertiga sudah lama berteman sejak awal mulai masuk kuliah di
jurusan kerja sosial dan HAM di universitas yang sama. Sam kemudian menghubungi
George dan Sameena. Keduanya pun menyanggupi untuk ikut turut serta mengikuti
ajakan Matthias. Sam pun menjawab pesan dan menghantarkannya dengan cepat.
Mereka bertiga pun menunggu Matthias di depan apartemen jam 11. Untungnya
apartemen mahasiswa Sam hanya satu blok dengan George dan Sameena di area
Apartemen Volrat Thams. Tak menunggu lama, Akhirnya ketemu Matthias meluncur
dengan mobil mini sedan berwarna hijau MINI COOPER. Ini adalah kali pertama Sam
naik mobil pribadi nan mahal. Maklum biasanya Sam hanya mengandalkan tram dan
bus kota karena aksesnya lebih mudah dan harganya terjangkau bagi kaum
mahasiswa. Sam memiliki kartu transportasi kota langganan yang bisa dipakai
sebulan penuh dan bisa diisi ulang kalau sudah habis masa berlakunya. Matthias
mempersilahkan mereka bertiga masuk dengan aksen Inggris-Jermannya yang masih cukup
kental. Cukup bagi mereka berempat dalam satu mobil yang memang dirancang
minimalis namun bertenaga badak. Usai masuk mobil, Sam bertanya kemana tujuan
melancongnya. Perawakan Matthias tidak seperti kebanyakan “bule”, tubuhnya
mungil setara tinggi Sam yakni rata-rata tinggi orang Indonesia, 165 cm. Dengan
senyuman khas, Matthias bilang akan mengajak Sam, George, dan Sameena ke
Lysekil, sebuah kota kecil di bagian barat Swedia berbatasan langsung dengan
lautan dan pantai berbatu. Menuju kota Lysekil membutuhkan 3 jam perjalanan
melewati kota Kungalv, Ljungskile, dan distrik Jorlanda. Dari Jorlanda mereka
harus menyebrangi jembatan Sunninngen hingga menyeberangi selat laut menuju
Finnsbo dan lanjut dengan perjalanan darat menuju Lysekil. Kota ini biasanya ramai dikunjungi saat musim
panas, sebagai tempat berlibur dan menikmati matahari musim panas.
Selama perjalanan mereka disuguhkan panorama pemandangan daratan,
perbukitan, dan pantai daratan tanah Viking. Perumahan khas Swedia yang
berkonsep country house lengkap dengan peternakan kuda dan kandang
peternakannya menghiasi perjalanan libur pekan mereka. Meski menempuh 3 jam
perjalanan, rasa penat dan lelah tak terasa. Selama perjalanan alunan musik
elektrik disko kesukaan Matthias meramaikan suasana melancong. Akhirnya
Matthias menepikan kendaraan ke sebuah tempat peristirahatan yang menghadap
kearah pantai Bohauss, sebuah pantai yang mengarah ke kota Lysekil. Di tempat
peristirahatan itu terdapat waralaba terkenal yang menjual makanan cepat saji.
Mereka pun turun seraya menuju restoran tersebut untuk makan siang.
Sembari
menunggu antrian dan mendapatkan makanan yang dipesan. Sam dan kawan-kawannya
menonton berita di televisi yang sengaja diletakkan di atas atap dekat dengan
kasir. Saat menonton berita mereka terkejut dengan adanya pemberitaan tentang
nestapa imigran dari Suriah dan Somalia yang rela berkorban harta hingga nyawa
untuk bisa selamat hingga Swedia. Pemberitaan ini menghangat seiring terjadinya
konflik Suriah dan juga Somalia yang tak kunjung usai. Banyak dari rakyatnya
menghindar dan menjauh dari asal negaranya untuk kehidupan yang lebih baik
tanpa dilanda perang dengan mencari suaka ke negara-negara Eropa seperti Jerman
dan Swedia. Swedia sendiri merupakan negara yang menerima suaka terbesar di Uni
Eropa setelah Jerman. Biasanya imigran akan menyeberang menuju kota Malmo yang
menjadi kota transit pertama yang dikunjungi imigran di Swedia. Namun dalam
pemberitaan itu bukan kisah suka yang diberitakan. Justru kisah duka
menyelimuti imigran yang diberitakan di media televisi tersebut. Sebuah
tayangan berita memperlihatkan beberapa imigran mengalami kekerasan fisik
selama perjalanan menuju saat di Yunani.
“ ya Tuhan, apa yang terjadi dengan mereka, banyak sekali bekas luka dan
lebam!” tanya George yang kaget dengan pemberitaan beberapa imigran perempuan
suriah yang mengalami kekerasan saat menuju Swedia.
“Aku pikir, mereka mengalami siksaan oleh penyelundup mereka!” sahut
Sameena yang juga pernah menjadi imigran di Italia.
Sameena
adalah putri pertama dari pasangan Bassar dan Aleeya yang mengalami kekerasan
secara politik dan fisik oleh salah satu klan yang berpengaruh di Yaman.
Sameena menghindar dari penyerbuan kelompok Hassan Al Houhti yang sering
meneror warga yang melawannya. Sameena yang menjadi salah satu incaran kelompok
Houhti ini dituduh menjadi mata-mata kelompok lawan Houhti. Beruntung Sameena
bisa melarikan diri dan diajak untuk tinggal oleh saudara sepupunya yang telah
lama bekerja di Bologna, Italia sebagai koki masak. Sameena lalu dititipkan
oleh ayah dan ibunya menuju Italia untuk tinggal bersama sementara sekalian
meneruskan belajarnya. Perjalanan Sameena tidak semudah yang dibayangkan.
Berbagai ancaman sewaktu keluar dari pengawasan keamanan tentara gerilyawan
Yaman. Sameena mengungkapkan bahwa dia sengaja diselundupkan ke Albania melalui
jasa penyelundup imigran gelap. Sayangnya penyelundup Sameena saat mencapai
daratan Yunani pernah menyiksa dan menghajar Sameena hingga tak sadarkan diri.
Beruntung dia kemudian diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit oleh polisi
Yunani yang kebetulan melintas. Lantas Sameena dirawat hingga sembuh dan bisa
melanjutkan perjalanan menuju Italia. Sameena bercerita bahwa tidak hanya dia
yang disiksa. Ibu-ibu dan anak-anak tak luput dari kekejaman penyelundup. Tak
hanya kekerasan fisik yang dialami oleh pencari suaka, buruknya sarana
transportasi yang dipakai yang mau tidak mau digunakan sebagai sarana
penyelundupan pun jauh dari aman. Akibatnya banyak yang mengalami dehidrasi
akibat penyelundupan menggunakan peti kemas truk tronton. Banyak yang mengalami
dehidrasi akibat kurangnya udara di dalam peti kemas dan mati. Sameena merasa
beruntung karena dia memiliki perbekalan yang cukup sehingga tidak mengalami
dehidrasi seperti pengungsi pencari suaka yang lain.
George dan
Matthias semakin penasaran akan cerita Sameena, “Sameena, minum jus jerukmu
dahulu” kata George saat melihat Sameena agak gemetar saat menceritakan
pengalamannya mencari suaka di negeri orang. Sameena dengan tangan agak gemetar
mengambil gelas yang berisi jus jeruk yang telah dipesannya. Sam dan George
membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. Matthias pun ikut menyamankan
posisi duduk dan mengelap kaca mata bundar khas ikon Harry Potter yang telah
lama ia pakai sejak matanya mulai minus 4 tahun yang lalu. Sameena kemudian
melanjutkan lakon ceritanya, “Di Yunani aku selamat, bersama rombongan lain aku
menyeberangi laut Mediterania menuju Catania Italia. Waktu itu aku bersama 19
orang lainnya menuju Catania dengan sebuah perahu karet boat yang sengaja
disediakan oleh penyelundup untuk menyeberangkan manusia-manusia pencari suaka
ke Italia. Lagi-lagi perjalanan berat aku alami. Perahu boat yang ditumpangi
oleng kesana-kemari akibat ombak laut Mediterania yang cukup mengguncang”
terang Sameena sambil meneteskan air matanya. Sam menyulurkan tissu kepada
Sameena. “Namun sayang, tak semua imigran bisa sampai ke Catania…” ungkap sayu
Sameena. “Bagaimana itu bisa terjadi, Sameena?” tanya Sam penuh perhatian. “
Tidak semua imigran entah dari Yaman maupun Syria yang ikut dalam rombongan
selamat. Beberapa dari mereka tak kuat akan ombak dan dinginnya lautan
Mediterania dan akhirnya meninggal akibat perahu terbalik dan tak bisa
berenang. Persis seperti apa yang terjadi pada bocah kecil Aylan Kurdi dan korban
lainnya yang terdampar di perairan Turki” jawab Sameena terbata-bata sembari
mengusap air matanya yang makin deras. Matthias, Sam, dan George tertunduk
sedih mendengar cerita pilu Sameena yang mengalami langsung tragedi imigran
pencari suaka. Sameena pun melanjutkan ceritanya, “Pada malam hari gelap nan
kelam itu, tak semua penumpang kapal memakai jaket keselamatan, khususnya anak
kecil dan ibu-ibu yang sedang hamil. Aku masih beruntung memakai jaket
keselamatan dan bisa berenang menggapai kapal evakuasi negara Italia yang
telagh mendapatkan info mengenai manusia yang mengapung di perairan mediterania
tak jauh dari Italia”. Air mata Sam berkaca-kaca. Dia tidak percaya kawannya
pernah mengalami peristiwa yang hamper merenggut hidupnya. “ Lalu, apa yang dilakukan
oleh kapal evakuasi Italia?” bagaimana dengan evakuasinya?” Sam bertanya penuh
cemas. “Aku dan rombongan yang selamat lainnya diselamatkan oleh penjaga
perairan Italia dan diberikan perawatan yang cukup baik. Mereka kemudian
mendata semua awak penumpang yang selamat di kantor kesehatan pelabuhan
Catania. Aku dipersilahkan untuk menghubungi saudaraku yang berada di Bologna.
Setiba disana kami dijamu dan dirawat dengan baik. Setiba di Catania, saudaraku
yang datang menjemput langsung memelukku penuh khawatir. Dari pengalaman yang
hampir merenggut nyawanya itu, Aku bekerja dan melanjutkan kuliah di jurusan
Ilmu sosial dan politik di Universita da Bologna. Impianku hanya satu,
bagaimana aku mampu berperan menyelamatkan hak-hak asasi manusia yang terenggut,
khususnya di masalah pengungsi pencari suaka akibat konflik. Itulah kemudian
aku melanjutkan S2 ku di Gothenburg.” Ucap Sameena yang mengakhiri cerita
pengalaman pribadinya. Sam, George, dan Matthias tak kuasa menahan haru dan
saling berpegangan tangan bersama dengan Sameena di meja restoran. Mereka
bersatu padu bermimpi dan berharap peristiwa naas yang telah dialami Sameena
dan pengungsi lainnya tidak terulang.
Makanan yang
mereka pesan akhirnya datang, yaitu Pizza Burritos dan Pizza kebab dilengkapi
dengan keju yang meleleh di bagian tepinya. Mereka pun tak sabar untuk
menikmati hidangan yang tersedia di meja makan.
Usai makan
siang. Sam dan kawan-kawannya melanjutkan perjalanan menuju Lysekil. Mereka
harus menyeberang kanal dengan kapal ferri. Seperempat jam di atas kapal ferri,
mereka menikmati pemandangan selat menuju kota Lysekil. Kapal ferrri pun mulai
merapat ke dermaga pulau Lysekil yang juga terkenal dengan kota kecil nan unik.
Tulisan Valkommen till Lysekil di
dermaga menyambut kedatangan pengunjung pulau dan kota kecil Lysekil. Panorama
Lysekil dihiasi dengan pantai yang mayoritas ditutupi oleh bebatuan yang unik.
Selain merupakan kota dermaga,kota ini juga dulunya menjadi penghasil ikan
makarel karena banyak nelayan ikan. Namun seiring jaman,nelayan berangsur
menghilang. Hanya kapal-kapal atau speed boat sewaan yang bersandar. Pantai
batu Lysekil memiliki keunikan tersendiri karena terkadang pada suatu waktu
tertentu, anjing laut datang ke pantai untuk sekedar berjemur dan menjadi
atraksi alami yang bisa dinikmati pengunjung. Tak heran kota kecil ini juga
menjadi persinggahan keluarga kerajaan Swedia di musim panas.
Matthias tak
lupa mengabadikan momen kebersamaanya dengan Sam, George, dan Sameena. Canda
tawa keakraban mereka setidaknya mengurangi kesedihan cerita Sameena. Mereka
berfoto di depan sebuah telepon umum yang berwarna merah. George bahkan berpose
layaknya pengawal kerajaan Inggris di depan telepon umum. Sam yang melihat pun
terpingkal-pingkal melihat pose unik George. Matthias pun tak ketinggalan
dengan pose andalannya mirip pemeran Harry Potter dengan menaiki sapu sampah
yang diletakkan di dekat telepon umum.
Bagi Sam, ini
adalah pengalaman jalan-jalannya yang sangat berkesan. Matthias dengan sosok
yang sangat baik hati mengajak kawan-kawannya berlibur ke Lysekil, George
dengan segala kelucuannya, dan Sameena seorang mahasiswi dan sahabat yang
ternyata perempuan pejuang suaka yang sangat gigih menggapai asa hingga
berhasil kuliah di Swedia. Sameena, Sang Pejuang Suaka.
Oleh : Lutfi Bahruddin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar