Pesantren sebagai tonggak pendidikan
keagamaan berbasis masyarakat memiliki peran strategis di bidang ekonomi.
Pendidikan kegamaan dan pengembangan usaha perekonomian berbasis pesantren partisipatif diajarkan oleh kyai pesantren mengilhami
banyak santri yang saat lulus dari pesantren berkecimpung dalam dunia
wirausaha. Menurut kajian Murtadho dalam studi tentang pesantren dan
pemberdayaan ekonomi, pola pengembangan usaha ekonomi di pesantren terbagi
menjadi empat, pertama usaha ekonomi berpusat dan bertitik tumpu pada kyai
dimana sang kyai bertanggung jawab penuh menjalankan usaha. kedua, usaha
ekonomi untuk operasional pesantren dalam hal ini guna menunjang pemenuhan
pembiayaan operasional pesantren. Ketiga, usaha ekonomi untuk santri sebagai
bekal keterampilan setelah lulus pesantren. Keempat, usaha ekonomi yang
melibatkan alumni pesantren untuk mengembangkan usaha produktif individu alumni
pesantren yang keuntungannya untuk pesantren dan selebihnya untuk pemberdayaan
alumni. Beberapa pesantren yang telah mengimplementasikan tujuan usaha ekonomi
kreatifnya contoh saja Pesantren Nurul Iman Parung Bogor yang memberikan pendidikan kreatif
padat karya sebagai penyokong ekonomi pesantren dengan belasan ribu santrinya
dan Pesantren Sidogiri yang telah mengembangkan jasa keuangan syariah melalui
BMT Usaha Gabungan Terpadu Syariah Sidogiri melalui Koperasi
Pondok Pesantren (Kopontren) Sidogiri yang telah menyebar mulai pulau Jawa, Bali, Sumatra,
hingga Kalimantan yang beromzet triliunan.
Berbicara mengenai MEA atau Masyarakat Ekonomi
Asean yang digadang gadang negara-negara di ASEAN menjadi tantangan tersendiri
bagi pesantren. MEA yang akan dicanangkan mulai 31 Desember 2015 sendiri
memiliki sasaran yang mengintegrasikan ekonomi regional Asia Tenggara dalam
bentuk pasar tunggal dan basis produksi,
kawasan ekonomi yang sangat kompetitif, kawasan pengembangan ekonomi yang
merata atau seimbang, dan kawasan yang terintegrasi sepenuhnya menjadi ekonomi
global. Lalu bagaimana dengan pesantren-pesantren di Indonesia? Menurut hemat
penulis, jika tantangan-tantangan global yang bila tidak disikapi dengan baik
mampu melemahkan posisi pesantren dalam hal kemandirian ekonomi baik instansi
maupun lulusan pesantren karena hambatan-hambatan yang selama ini ada, baik
hambatan birokrasi maupun administrasi akan dihilangkan. Bagaimana harusnya pesantren
mampu berjalan bersama-sama khususnya unit usaha perekonomiannya agar tidak
tergerus dengan produk luar.
Mulai Cintai Produk Pesantren
Santri identik dengan peci,
sarung, sajadah, kerudung, baju koko, hingga sandal dan bisa dilihat banyak
yang dibuat oleh negara tirai bambu alias Made in China. Terlebih lagi
saat musim tahun ajaran baru santri, produk tersebut pasti akan laris manis
terjual habis ludes diserbu wali santri. Momen tersebut sebenarnya memiliki potensi
ekonomi yang cukup tinggi. Bagaimana tidak, bila dihitung pada 2011-2012 dari data statistik pendidikan islam
Kementerian Agama, terdapat 27.230 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia
dengan jumlah santri secara keseluruhan mencapai 3.759.198 orang. Pastinya
sirkulasi barang dan jasa akan mengalami peningkatan seiring bertambahnya
jumlah konsumen santri. Keuntungan secara finansial pasti akan dirasakan oleh
pesantren dan masyarakat yang ikut andil dalam bagian tersebut. Pastinya
disertai pengembangan mutu produk sehingga bisa bersaing dengan produk impor.
Santri perlu mulai ditanamkan jiwa cinta pesantren melalui koperasi pesantren
yang siap menyediakan segala kebutuhan santri hasil produksi pesantren itu
sendiri. Santri diajak terlibat mengapresiasi produk dan karya pesantren
sehingga mereka akan belajar mencintai produknya sendiri. Kampanye mencintai
produk oleh pesantren “Cintai Produk Pesantren” juga perlu digalakkan secara massive
layaknya bagaimana pemerintah indonesia mengkampanyekan program "100%
Cinta Produk Indonesia". Pesantren sebagai role model pendidikan
Islam Nusantara harus terdepan dalam usaha tersebut.
Cetak Wirausahawan Santri
kreatif
Pesantren yang siap
menghadapi tantangan MEA adalah pesantren yang di dalam kurikulum pesantren salah
satunya yang mengajarkan kecakapan hidup (life skills) dan bahasa asing,
selain mengajarkan ilmu keagamaan salafiyah kitab kuning. Life skills
atau Keterampilan hidup disini mencakup wawasan ilmu ekonomi, bahasa, agribisnis,
dan kewirausahaan. Keterampilan hidup disini adalah Selain sisi santri,
pesantren perlu memberikan pelatihan kemandirian dan kemampuan bahasa melalui
pengembangan mutu pengajar ustadz dan ustadzah agar mampu bersaing dengan
guru-guru asing dari negara ASEAN, karena tidak bisa dipungkiri posisi tersebut
bisa diisi oleh tenaga pengajar luar negeri. Disinilah kemudian penyeragaman
mutu tenaga pendidik darurat dan segera diwujudkan. Kemampuan bahasa inggris dan
kemampuan ilmu teknologi (IT) sebagai bekal utama santri, ustadz, ustadzah menyikapi
dunia global perlu digenjot seraya menggalakkan kemandirian santri dengan
program wirausaha kreatif melalui UKM berbasis pesantren. Di sisi Kyai sebagai
pimpinan pesantren, perlu menginstruksikan dan menyelaraskan struktur
dibawahnya bagaimana memajukan pendidikan pesantren berjalan seiring antara
ilmu agama, sains teknologi, dan bahasa. Harapannya pesantren memikirkan
rencana strategis kekinian sehingga mampu memberikan solusi perkembangan
terkini sesuai tuntutan jaman. Kedaulatan ekonomi pesantren perlu diwujudkan
untuk mendorong terciptanya pesantren yang secara ekonomi mandiri dan
lulusannya mampu bersaing dengan sumber daya manusia dari luar negeri. Tidak
ada yang tidak mungkin dan sudah saatnya pesantren bangkit dan mengupayakan
dengan taktis dan mengkaji guna mendaptkan gagasan strategis, efektif, dan
efisien dalam menghadapi tantangan MEA 2015.
dimuat di Opini Duta.co pada 5 Juli 2015
Lutfi Bahruddin
Penggiat Kajian Pesantren di Pesantren Tebuireng
dan Penerbit Tebuireng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar