Jumat, 06 Mei 2016

Kedaulatan Ekonomi Pesantren

Pesantren sebagai tonggak pendidikan keagamaan berbasis masyarakat memiliki peran strategis di bidang ekonomi. Pendidikan kegamaan dan pengembangan usaha perekonomian berbasis pesantren partisipatif  diajarkan oleh kyai pesantren mengilhami banyak santri yang saat lulus dari pesantren berkecimpung dalam dunia wirausaha. Menurut kajian Murtadho dalam studi tentang pesantren dan pemberdayaan ekonomi, pola pengembangan usaha ekonomi di pesantren terbagi menjadi empat, pertama usaha ekonomi berpusat dan bertitik tumpu pada kyai dimana sang kyai bertanggung jawab penuh menjalankan usaha. kedua, usaha ekonomi untuk operasional pesantren dalam hal ini guna menunjang pemenuhan pembiayaan operasional pesantren. Ketiga, usaha ekonomi untuk santri sebagai bekal keterampilan setelah lulus pesantren. Keempat, usaha ekonomi yang melibatkan alumni pesantren untuk mengembangkan usaha produktif individu alumni pesantren yang keuntungannya untuk pesantren dan selebihnya untuk pemberdayaan alumni. Beberapa pesantren yang telah mengimplementasikan tujuan usaha ekonomi kreatifnya contoh saja Pesantren Nurul Iman Parung Bogor yang memberikan pendidikan kreatif padat karya sebagai penyokong ekonomi pesantren dengan belasan ribu santrinya dan Pesantren Sidogiri yang telah mengembangkan jasa keuangan syariah melalui BMT Usaha Gabungan Terpadu Syariah Sidogiri  melalui Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sidogiri yang telah menyebar mulai pulau Jawa, Bali, Sumatra, hingga Kalimantan yang beromzet triliunan.
Berbicara mengenai MEA atau Masyarakat Ekonomi Asean yang digadang gadang negara-negara di ASEAN menjadi tantangan tersendiri bagi pesantren. MEA yang akan dicanangkan mulai 31 Desember 2015 sendiri memiliki sasaran yang mengintegrasikan ekonomi regional Asia Tenggara dalam bentuk pasar tunggal dan basis  produksi, kawasan ekonomi yang sangat kompetitif, kawasan pengembangan ekonomi yang merata atau seimbang, dan kawasan yang terintegrasi sepenuhnya menjadi ekonomi global. Lalu bagaimana dengan pesantren-pesantren di Indonesia? Menurut hemat penulis, jika tantangan-tantangan global yang bila tidak disikapi dengan baik mampu melemahkan posisi pesantren dalam hal kemandirian ekonomi baik instansi maupun lulusan pesantren karena hambatan-hambatan yang selama ini ada, baik hambatan birokrasi maupun administrasi akan dihilangkan. Bagaimana harusnya pesantren mampu berjalan bersama-sama khususnya unit usaha perekonomiannya agar tidak tergerus dengan produk luar.
Mulai Cintai Produk Pesantren
Santri identik dengan peci, sarung, sajadah, kerudung, baju koko, hingga sandal dan bisa dilihat banyak yang dibuat oleh negara tirai bambu alias Made in China. Terlebih lagi saat musim tahun ajaran baru santri, produk tersebut pasti akan laris manis terjual habis ludes diserbu wali santri. Momen tersebut sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi. Bagaimana tidak, bila dihitung pada 2011-2012 dari data statistik pendidikan islam Kementerian Agama, terdapat 27.230 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia dengan jumlah santri secara keseluruhan mencapai 3.759.198 orang. Pastinya sirkulasi barang dan jasa akan mengalami peningkatan seiring bertambahnya jumlah konsumen santri. Keuntungan secara finansial pasti akan dirasakan oleh pesantren dan masyarakat yang ikut andil dalam bagian tersebut. Pastinya disertai pengembangan mutu produk sehingga bisa bersaing dengan produk impor. Santri perlu mulai ditanamkan jiwa cinta pesantren melalui koperasi pesantren yang siap menyediakan segala kebutuhan santri hasil produksi pesantren itu sendiri. Santri diajak terlibat mengapresiasi produk dan karya pesantren sehingga mereka akan belajar mencintai produknya sendiri. Kampanye mencintai produk oleh pesantren “Cintai Produk Pesantren” juga perlu digalakkan secara massive layaknya bagaimana pemerintah indonesia mengkampanyekan program "100% Cinta Produk Indonesia". Pesantren sebagai role model pendidikan Islam Nusantara harus terdepan dalam usaha tersebut.
Cetak Wirausahawan Santri kreatif

Pesantren yang siap menghadapi tantangan MEA adalah pesantren yang di dalam kurikulum pesantren salah satunya yang mengajarkan kecakapan hidup (life skills) dan bahasa asing, selain mengajarkan ilmu keagamaan salafiyah kitab kuning. Life skills atau Keterampilan hidup disini mencakup wawasan ilmu ekonomi, bahasa, agribisnis, dan kewirausahaan. Keterampilan hidup disini adalah Selain sisi santri, pesantren perlu memberikan pelatihan kemandirian dan kemampuan bahasa melalui pengembangan mutu pengajar ustadz dan ustadzah agar mampu bersaing dengan guru-guru asing dari negara ASEAN, karena tidak bisa dipungkiri posisi tersebut bisa diisi oleh tenaga pengajar luar negeri. Disinilah kemudian penyeragaman mutu tenaga pendidik darurat dan segera diwujudkan. Kemampuan bahasa inggris dan kemampuan ilmu teknologi (IT) sebagai bekal utama santri, ustadz, ustadzah menyikapi dunia global perlu digenjot seraya menggalakkan kemandirian santri dengan program wirausaha kreatif melalui UKM berbasis pesantren. Di sisi Kyai sebagai pimpinan pesantren, perlu menginstruksikan dan menyelaraskan struktur dibawahnya bagaimana memajukan pendidikan pesantren berjalan seiring antara ilmu agama, sains teknologi, dan bahasa. Harapannya pesantren memikirkan rencana strategis kekinian sehingga mampu memberikan solusi perkembangan terkini sesuai tuntutan jaman. Kedaulatan ekonomi pesantren perlu diwujudkan untuk mendorong terciptanya pesantren yang secara ekonomi mandiri dan lulusannya mampu bersaing dengan sumber daya manusia dari luar negeri. Tidak ada yang tidak mungkin dan sudah saatnya pesantren bangkit dan mengupayakan dengan taktis dan mengkaji guna mendaptkan gagasan strategis, efektif, dan efisien dalam menghadapi tantangan MEA 2015.

dimuat di Opini Duta.co pada 5 Juli 2015

Lutfi Bahruddin

Penggiat Kajian Pesantren di Pesantren Tebuireng
dan Penerbit Tebuireng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar